Petuah Jaka Potter (JAringan KAmus POTensial TERlengkap)
Helena Bonham Carter: Aktris Eksentrik yang Versatile
Edisi ke-187 dari Petuah Jaka Potter
Siapa yang tidak tahu Bellatrix Lestrage? Sosok yang membuat kita merasa emosi setiap kali melihat tingkah dan tawa menyebalkan nya. Ternyata dibalik peran Bellatrix yang sukses membuat emosi kita meledak, ada sosok pemeran yang mampu menjiwai Bellatrix dengan luar biasa, yaitu Helena Bonham Carter.
Kehidupan Helena Bonham Carter
Helena Bonham Carter, lahir di distrik kelas atas Islington, London. Keluarganya merupakan keluarga terpandang di dunia perpolitikan, dimana kakek buyut dari pihak ayahnya bernama Herbert Asquith, seorang Earl of Oxford pertama dan Asquith dan Perdana Menteri Inggris 1908–1916. Nenek nya sendiri adalah seorang politisi feminis dan salah satu teman dekat Winston Churchill, bernama Lady Violet Bonham Carter sedangkan sang kakek adalah seorang politisi liberal Inggris bernama Maurice Bonham Carter.
Namun, masa kecil Helena tidak mudah. Ibunya mengalami gangguan saraf pada saat Helena berusia lima tahun. Ia perlu waktu selama tiga tahun untuk pulih. Setengah dekade setelahnya, sang ayah menderita stroke dan mengharuskannya menggunakan kursi roda selama sisa hidupnya. Pada saat yang bersamaan, kakaknya melanjutkan kuliah dan meninggalkan Helena sendiri untuk mendukung sang ibu melewati masa sulit ini.
Awal Karir di Dunia Akting
Meski begitu, Helena tetap mempertahankan nilai-nilai terbaik saat di sekolah menengah bernama South Hampstead High School hingga mengejar impiannya di dunia akting. Di usianya yang ke 13, Helena memenangkan kontes menulis nasional dan menggunakan hadiah uangnya untuk membayar biaya pendaftaran ke salah satu agen casting.
Dengan begitu banyak penghargaan yang diterimanya, Helena sama sekali tidak memiliki pelatihan formal di dunia akting. Hingga di usianya yang ke 16, ia mendapat peran kecil pada film TV A Pattern of Rose. Sejak itulah rasa cinta Helena pada bidang akting semakin besar. Ia bahkan mengambil ujian A-Level di Westminster School untuk bisa masuk salah satu kampus bernama King’s College—sebuah universitas berbasis penelitian yang terletak di London, Inggris. Namun naas, ia ditolak oleh para pejabat sekolah itu dengan alasan yang mereka yakini bahwa Helena pasti akan segera meninggalkan studinya dan memilih mengejar karir di bidang akting.
Helena menajdi pemeran utama pertama kali pada usia 20 tahun dalam salah satu drama romantis berjudul Lady Jane sekaligus membuat namanya semakin terkenal, setelah sebelumnya ia memerankan sebagai Lucy Honeychurch dalam film A Room With a View pada tahun 1985.
Keseriusan Helena dalam Bermain Peran
Seperti di awal, Helena memang tidak pernah bersekolah di sekolah akting, kehidupan masa kecilnya pun tidak sebaik anak-anak seusianya. Namun siapa sangka kemampuannya dalam berakting tidak lepas pula dari peran ayah dan ibu nya, meski dalam keterbatasan.
Sang ibu, Elena, membutuhkan waktu tiga tahun untuk pulih dari gangguan sarafnya. Namun, berkat apa yang dialaminya menginspirasi sang ibu untuk menjadi seorang psikoterapis. Helena selalu meminta ibunya untuk menganalisis terlebih dahulu karakter-karakter yang akan ia perani agar bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang motivasi peran karakter tersebut. Sang ibu akan membaca naskahnya dan memberi tahu Helena, apa yang menjadi pendorong dari karakter itu. Itulah yang menyebabkan Helena bisa memerankan peran-perannya dengan sangat meyakinkan.
Peran sang ayah juga tidak kalah pentingnya. Ayahnya memang keturunan dari keluarga terkenal dalam perpolitikan Inggris dan menjadi seorang bankir terkenal. Namun ia didiagnosis menderita Neuroma Akustik pada tahun 1976 yang menyebabkan stroke. Ia menjadi lumpuh sebagian dan menggunakan kursi roda. Siapa sangka dua dekade kemudian, Helena mendapat peran sebagai wanita yang terkena penyakit neuron motorik dalam Film The Theory of Flight. Ia mempelajari segala gerak-gerik sang ayah untuk mendalami peran secara realistis bagaimana seseorang yang hidup di kursi roda dan memiliki kemampuan terbatas.
Ketika ia ditawari peran sebagai Putri Margaret dalam serial TV The Crown, aktris tersebut bahkan meminta bantuan seorang paranormal untuk mendapatkan izin dari mendiang saudara perempuan Ratu. Entah bagaimana caranya, pada akhirnya ia berhasil memerankan karakter tersebut dengan sangat baik.
Dalam perannya di film Prancis berjudul, Portraits Chinois, Helena hampir tidak pernah berbicara bahasa Prancis sama sekali. Namun ia dengan giat mengikuti kursus bahasa Prancis dan meskipun sulit untuk berimprovisasi, ia berhasil melewati nya dengan baik. Ia bahkan mengambil mengambil les menyanyi selama tiga bulan untuk perannya sebagai Mrs. Lovett di Sweeney Todd, lho!
Di kesempatan lain, Helena bahkan mengundang Emma Watson (pemeran Hermione Granger) ke rumahnya hanya untuk membahas karakter Hermione dan pola pikirnya. Helena ingin menggambarkan Hermione sesuai dengan Emma yang memerankan Bellatrix saat meminum Ramuan Polijus pada film Harry Potter dan Relikui Kematian.
Peran Bellatrix Lestrange
Helena memerankan sebagai Bellatrix Lestrange pada empat film Harry Potter; Harry Potter dan Orde Phoenix, Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran, Harry Potter dan Relikui Kematian : 1 dan 2. Ia menggantikan Helen McCrory yang tidak dapat melakukannya karena kehamilannya yang di kemudian nya mengambil peran sebagai Narcissa Malfoy, saudara perempuan Bellatrix. Beberapa film terkenal lainnya yang diperani oleh Helena antara lain, Fatal Deception: Mrs. Lee Harvey Oswald (1993), Charlie and Chocolate Factory (2005), Sweeney Todd (2007), Alice in Wonderland (2010), The King's Speech (2010), Les Misérables (2012), dan masih banyak lagi.
Trivia Lainnya
Helena memperoleh gelar Commander of the Order of the British Empire (CBE), yaitu gelar yang diberikan dari ordo Ksatria Inggris, yang mengakui mereka yang terlibat dalam bidang seni, sains, organisasi amal dan kesejahteraan, serta layanan publik di Tahun 2012 atas jasanya di bidang drama.
Di Tahun 2014, Helena diangkat menjadi anggota Komisi Holocaust Nasional Inggris yang baru, yang bertujuan untuk memastikan bahwa negara tersebut memiliki sumber daya peringatan dan pendidikan yang layak.
Dalam perannya di Film The King's Speech, meski tidak memenangkan Academy Award atau Golden Globe, Helena dianugerahi Order of the British Empire atas perannya sebagai Duchess Elizabeth, ibu dari Ratu Elizabeth II dan 6 penghargaan lain, yaitu Penghargaan BAFTA, Penghargaan Screen Actors Guild, Penghargaan British Independent Film, Penghargaan Italian Online Movie, Penghargaan Hollywood Film Festival, dan Penghargaan Santa Barbara International Film Festival. Bahkan pada perannya sebagai Kate Croy dalam film The Wings of the Dove (1997), ia berhasil mendapatkan 11 penghargaan.
Helena menciptakan merek pakaian miliknya sendiri, The Pantaloonies. Keuntungan dari penjualan disumbangkan ke Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF).
Pada tahun 2008, Helen menjadi pelindung Action Duchenne, sebuah badan amal yang mendukung mereka yang terkena distrofi otot Duchenne.
Selain pintar bermain peran, Helena juga pandai sebagai pengisi suara. Beberapa karakter yang diisi suara olehnya antara lain, Emily dalam film Corpse Bride, White Bear dalam film Brown Bear's Wedding, Carnivale, Wallace & Gromit: The Curse of the Were-Rabbit, The Gruffalo, Poles Apart, Sgt. Stubby: An American Hero, Dragonheart: Vengeance, dan The Dark Crystal: Age of Resistance.
Sepanjang kariernya, Helena telah memerankan lebih dari 120 peran secara total! Ini termasuk 69 peran film, 20 penampilan televisi, 16 acara radio, 6 pertunjukan teater, 2 penampilan video musik, dan 2 peran dalam video game.
Itulah dia kira-kira kisah biografi dari aktris ternama, Helena Bonham Carter! Kira-kira pesan moral apa yang bisa kamu teladani dari beliau? Bagikan ceritamu di kolom komentar ya!
Jika {%FULLNAME%} dan Helena Bonham Carter bermain dalam satu film, film yang mereka perankan adalah ...!
Jika kamu tertarik untuk menjadi Relawan Penulis Petuah Jaka Potter, harap menghubungi Lynx Ainsleight!